Yaqowiyu Bukan Tradisi Sebaran Apem Biasa

Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu
Sumber: https://beritagar.id/artikel/piknik/yaqowiyu-tradisi-sebar-apam-di-klaten
Bagi warga Kabupaten Klaten dan sekitarnya, tradisi perayaan Yaqowiyu atau biasa disebut Tradisi Upacara Sebaran Apem merupakan hal yang tak asing lagi. Tradisi ini telah berjalan secara turun-temurun setiap tahunnya di pertengahan bulan Sapar dalam penanggalan Jawa. Kearifan lokal yang telah melegenda, khususnya bagi masyarakat Desa Jatinom Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten ini menjadikan Jatinom sebagai salah satu desa tujuan wisata pada saat tradisi tersebut berlangsung. 

A. Asal-Usul Tradisi Sebaran Apem 

Jika membahas asal-usul tradisi sebaran apem ini maka kita akan dikenalkan salah seorang tokoh ulama besar dari Jatinom yang hidup pada abad XVI yang bernama Ki Ageng Gribig. Ki Ageng Gribig merupakan salah satu putra Maulana Malik Ibrahim. Maulana Malik Ibrahim merupakan salah satu dari Walisanga yang berkontribusi sangat besar dalam usaha penyebaran agama Islam di Pulau Jawa. Adapun nama lain Ki Ageng Gribig adalah Maulana Sulaiman. 

Salah satu keturunan Ki Ageng Gribig atau Maulana Sulaiman adalah K.H. Akhmad Dahlan yang dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah. Keturunan lainnya adalah R. Hartarto Sastrosoenarto atau dikenal sebagai R. Hartarto. Beliau pernah menjabat sebagai Menteri di masa pemerintahan orde baru selama beberapa periode yaitu dari tahun 1983-1999. 

R. Hartarto memiliki putera bernama Airlangga Hartarto. Airlangga Hartarto saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Indonesia periode 2019-2024 pada Kabinet Indonesia Maju. Airlangga Hartarto inilah yang saat ini banyak berperan dalam renovasi makam leluhurnya yaitu Ki Ageng Gribig di Desa Jatinom Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten, tempat dilaksanakannya Upacara Sebaran Apem. 

Tradisi Sebaran Apem ini telah berlangsung secara turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Hal ini berawal dari kisah Ki Ageng Gribig bersama istri yang telah menuntut ilmu dan melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Sepulang dari tanah suci beliau membawa beberapa oleh-oleh di antaranya adalah kue affan (dalam bahasa arab, affan berarti memaafkan). Kue ini akhirnya disebut kue apem dan diyakini membawa keberkahan sehingga Ki Ageng Gribig bermaksud untuk membagikannya kepada para tetangga dan sanak saudara. 

Namun kue yang dibawa dari tanah suci tersebut  tidak mencukupi untuk dibagikan kepada para tetangga dan sanak saudaranya sehingga beliau meminta tolong istri dan keluarga untuk membuat kue serupa. Jadilah kue apem dengan jumlah yang cukup banyak kemudian kue tersebut dibagi-bagikan. Para tetangga dan sanak saudara sangat antusias menerima kue apem tersebut. Berawal dari sinilah akhirnya Ki Ageng Gribig mengamanatkan kepada seluruh warga untuk membuat kue apem di setiap bulan Sapar untuk disedekahkan. 

Dari masa ke masa, tradisi pembagian kue apem ini menjadi moment yang sangat dinantikan bukan saja oleh masyarakat Jatinom atau Klaten, tetapi juga masyarakat umum di sekitar Klaten seperti Boyolali, Sukoharjo, dan Yogyakarta. Kue apem yang dibuat dengan bahan baku tepung beras ini dibuat oleh seluruh warga/masyarakat Jatinom dalam jumlah yang cukup banyak yaitu mencapai 4-5 ton di setiap perayaannya di pertengahan bulan Sapar.

Sebelum dibagikan, kue ini ditata membentuk sebuah gunungan dengan pola 4-2-4-4-3 yang merupakan gambaran jumlah rakaat salat lima waktu. Selanjutnya gunungan kue ini akan diarak dalam sebuah upacara kirab di sepanjang Jalan Raya Jatinom kemudian didoakan oleh Pemuka Agama di Masjid Agung yang terletak tidak jauh dari kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig. 

Setelah prosesi pembacaan doa selesai maka kue apem ini akan diarak menuju sebuah panggung sebaran apem. Di panggung inilah kue-kue ini dibagikan atau disebarkan kepada seluruh warga yang telah menanti di lokasi sebaran apem ini. Ribuan warga baik warga asli Klaten, dan warga dari sekitar Klaten sangat antusias memperebutkan kue apem yang telah dibacakan doa yaitu yaa qowiyyu, yaa aziz, qowwina wal muslimiin, yaa qowiyyu warzuqna wal muslimiin yang berarti memohon kekuatan kepada Allah Swt. Dari doa ini maka Tradisi Sebaran Apem dikenal dengan sebutan Sebaran Apem Yaqowiyu yang bermaksud memohon kekuatan kepada Allah Swt. 

B. Yaqowiyu Bukan Tradisi Sebaran Apem Biasa 

Pelaksanaan upacara sebaran apem Yaqowiyu membutuhkan persiapan yang luar biasa dengan melibatkan bukan hanya Pemerintah Desa Jatinom tetapi juga Pemerintah Kecamatan Jatinom dengan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Klaten. Hal ini dilakukan karena tradisi ini melibatkan tokoh-tokoh penting di daerah dan semakin hari semakin menyedot antusiasme warga. Bukan hanya prosesi sebaran apemnya yang menarik namun juga pada event-event pembuka saat tradisi ini dilakukan. Adapun beberapa event yang mengawali pelaksanaan tradisi ini misalnya upacara pembukaan, festival budaya, pagelaran seni daerah, festival drum band, kirab gunungan apem, pertunjukan silat, dan sebagainya. 

Sebelum terjadinya pandemi, kemeriahan yang terjadi menjelang prosesi sebaran apem ini berlangsung selama beberapa hari. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh pemerintah setempat untuk memberikan peluang kepada pengelola UMKM untuk memamerkan sekaligus memasarkan produknya dengan cara membuka stand. Stand UMKM ini tidak dipungut retribusi sehingga lebih menguntungkan pemilik UMKM dalam memasarkan produknya. Selain itu warga yang menjadi konsumen produk tersebut juga diuntungkan karena bisa membeli dan menikmati produk UMKM setempat dengan harga yang lebih murah. 

Selain event-event di atas, masih banyak lagi aktivitas warga di sekitar lokasi sebaran apem ini dalam memanfaatkan moment yang ada. Salah satunya adalah dengan membuka berbagai pusat permainan anak-anak dan pasar malam. Ini menjadikan Jatinom menjadi kota yang lebih hidup dibanding hari-hari biasa. Ditambah lagi antusiasme warga dalam menyajikan berbagai kuliner tradisional di sekitar lokasi. Tentu saja ini semakin menarik perhatian pengunjung sehingga mendatangkan keuntungan bagi banyak pihak mulai pedagang asongan, tukang parkir, dan pedagang kaki lima. 

Demikianlah, Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu bukan saja memberikan tontonan gratis kepada warga namun juga memberikan keuntungan kepada banyak pihak sehingga mendorong geliat perekonomian di  Jatinom. Perayaan Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu bukan sekadar melestarikan Kearifan Lokal Jatinom namun lebih membangkitkan pembangunan perekonomian rakyat yang diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar. 

C. Peran Internet dalam Pelestarian Kearifan Lokal 

Tak bisa dipungkiri bahwa saaat ini masyarakat sangat membutuhkan berbagai informasi secara bebas dan cepat. Selain itu kecenderungan masyarakat untuk mengekspos berbagai aktivitas sehari-harinya baik melalui media sosial atau media elektronik ini membutuhkan penyedia jaringan internet yang handal. Demikian halnya dalam mempublikasikan informasi Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu ini. 

Seperti apa yang saya lakukan saat ini yaitu dengan bermodalkan jaringan internet dari Telkom Group yaitu IndiHome, saya bisa bebas berselancar di dunia maya yang luas dengan cepat tanpa batas, menggali berbagai informasi dan kemudian mempublikasikannya. Dengan IndiHome Internetnya Indonesia, informasi Tradisi Sebaran Apem Yaqowiyu bisa diakses oleh seluruh pelanggan dengan cepat dan tentu saja dengan biaya yang sangat terjangkau. 

Beruntung sekali saat ini jaringan IndiHome telah memasuki seluruh wilayah  bukan saja di daerah perkotaan tetapi sudah jauh menembus daerah perdesaan. Dengan biaya pemasangan yang sangat murah tanpa biaya sewa peralatan, pelanggan bisa menikmati jaringan internet yang cepat tanpa batas. Ditambah pelayanan online yang baik selama 24 jam menjadikan IndiHome sebagai penyedia jaringan yang handal dan minim gangguan. Kok bisa? Ya, karena sedikit saja terjadi gangguan misalnya kabel putus karena suatu hal, petugas lapangan langsung terjun ke lokasi untuk melakukan perbaikan, dan itu tanpa menunggu laporan. Luar biasa, bukan? 

Semoga IndiHome tetap terpercaya dalam memberikan layanan jaringan internet terbaik kepada seluruh pelanggan di pelosok negeri. IndiHome tetap eksis dan semakin memberikan kontribusi positif dalam usaha melestarikan kearifan lokal budaya daerah di seluruh pelosok tanah air. 

Terima kasih Telkom Group, terima kasih IndiHomeInternetnya Indonesia.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.